Azra adalah produser, penyanyi, sekaligus penulis lagu asal Jakarta yang kini tinggal di Bali. Kisahnya di dunia musik dimulai pada 2007, ketika ia mencoba menciptakan musik elektronik DnB dengan sentuhan punk rock yang menjadi ciri khasnya. Awalnya hanya seorang groupies, Azra kemudian tampil bersama berbagai band hingga akhirnya memilih jalur solo. Tempat-tempat seperti Dejavu, News Cafe, hingga Rossi Music pernah menjadi panggung rutinnya, berbagi cerita dengan komunitas musik underground.
Tahun 2007 adalah momen awal bagi Azra, yang saat itu mengusung konsep akustik dengan tambahan sampling pada aransemennya. Lagu-lagu seperti “Friend or Foe,” “Awl,” dan “City Life” adalah hasil eksplorasinya, masing-masing mencerminkan pengkhianatan, konflik di balik layar dunia groupies, dan hiruk pikuk kehidupan ibu kota. Semua ini terinspirasi oleh idolanya, Tim Armstrong.
Setelah sepuluh tahun vakum, Azra kembali di 2022 dengan single “Greatest Day,” lagu yang terinspirasi dari pengamatannya selama tinggal di Bali. Ia mengangkat isu lingkungan, mulai dari kemacetan, emisi karbon, hingga sampah. Sebuah refleksi yang tajam, sekaligus menjadi awal baru dalam kariernya.
Di 2023, Azra merilis EP pertamanya, “Time Capsule,” yang berisi tujuh lagu hasil perjalanan panjangnya sejak 2007. Dengan aransemen penuh yang berat dan cepat, EP ini adalah nostalgia sekaligus pembaruan. Referensinya luas, dari Enter Shikari hingga Lily Allen, semua berpadu dalam eksperimen punk rock yang unik.
Tahun yang sama, Azra juga merilis double single “Insecurity” dan “Autopilot.” Dalam “Insecurity,” ia dengan jenaka membahas tren “polisi skena” yang sering menghakimi pemakai kaos band. Sementara “Autopilot” mengangkat tema kesehatan mental dan tekanan generasi, lagu ini menjadi refleksi mendalam bagi siapa saja yang merasa terjebak dalam siklus sosial dan emosional.
Di penghujung 2024, Azra akhirnya merilis album debutnya, “My Kingdom,” dengan sepuluh lagu yang menggambarkan berbagai sisi kehidupan. Lagu-lagu seperti “Creatives” menyindir kehidupan palsu para influencer, sementara “Clones” menangkap kelelahan kreatif dengan lirik yang penuh rasa frustrasi. Ada juga “Someday,” sebuah pesan emosional tentang menjadi orang tua, dan “I Wanna Surf,” cerita pertemanan yang terjalin di atas ombak.
Album ini adalah bukti bahwa Azra bukan sekadar musisi, tetapi juga seorang pendongeng yang mengemas pengalaman, kritik sosial, dan introspeksi menjadi musik yang penuh energi dan makna. Dari Jakarta ke Bali, dari DnB hingga punk rock, Azra terus berevolusi, membawa suara yang selalu relevan dengan zamannya.
Sudahkah Anda mendengar “My Kingdom”? Lagu mana yang paling menarik perhatian Anda?
